Kepala ular kepala dua seperti pecah dengan mendadak, mejadi berkeping keping.
Perempuan yang duduk dalam keadaan telanjang bulat didalam bak mandi, benarkah Hong Sie Nio yang namanya menggemparkan dunia persilatan, dan yang setiap orang yang melihatnya pasti menjadi pusing kepala?
Ia benar benar tidak percaya, tetapi juga tidak bernai tidak percaya. Kakinya sudah melangkah mundur, sudah tentu yang lainnya sudah mundur lebih cepat lagi.
Dengan sekonyong konyong terdengar suara bentakan perlahan yang keluar dari mulut Hong Sie Nio: “Jangan bergerak!”
Setelah semua orang itu benar benar tidak bergerak, dari wajahnya barulah tampak pula sedikit senyumnya, senyumnya itu masih tetap demikian lemah lembut, dan demikian menggiurkan. Kemudian ia berkata sambil tertawa: “Kalian sudah mengintip orang perempuan mandi, dengan begitu saja kalian kira bisa pergi?” “Lalu...kau mau apa?” bertanya si ular kepala dua.
Meskipun suaranya sudah agak gemetaran, tetapi sepasang matanya masih terbelalak lebar, sewaktu menyaksikan dada terbuka dari Hong Sie Nio yang tubuhnya padat, nyalinya mendadak menjadi besar lagi” katanya sambil tertawa dingin: “Apakah kau masih ingin kami menyaksikan tubuhmu lebih jelas lagi?” “Oh...kiranya kau menghina aku karena tidak berpakaian? Apakah kau kira aku tidak berani melompat mengejar kalian?” “Benar, kecuali sewaktu kau mandi ada juga membawa senjata, sekalipun kau duduk didalam bak mandi juga bisa membunuh orang” berkata ular kepala dua sambil perdengarkan suara tertawanya yang aneh.
Hong Sie Nio menghela napas, ia mengangkat tangannya dan berkata: “kalian lihat....apakah tanganku ini mirip dengan tangan seorang pembunuh?”
Jari jari sepasang tangan itu, tampakanya demikian putih halus seperti tidak bertulang, juga seperti bunga yang indah.
“Tidak mirip” jawab ular kepala dua.
“Aku lihat juga tidak mirip, tetapi yang aneh, ada kalanya tangan ini justru bisa membunuh orang!”
Kedua tangannya itu digerakkan dengan perlahan, dari sela sela jari tanganya tiba tiba melesat keluar sepuluh lebih sinar berkilauan.
Selanjutnya baru ketahuan, bahwa itu adalah serentetan suara jeritan, maka setiap orang, telah tertancap sebatang jarum perak, siapapun tidak melihat dengan nyata jarum jarum itu dilancarkan dari mana.
Maka siapapun juga tidak ada yang mengelak.
Hong Sie Nio kembali menghela napas, katanya seperti menggumam sendiri:
“Mengintip orang perempuan mandi, bisa tumbuh jarum dimatanya, apakah ucapan ini kalian belum pernah dengar?”
Tujuh delapan orang itu semua dengan menggunakan tangannya untuk menutupi mata masing masing, rasa sakit membawa mereka bergelimpangan di tanah.
Suara jeritan tujuh delapan orang itu yang diperdengarkan dengan berbareng ternyata masih belum membuat hong Sie Nio menutup telinganya, sebab ia masih sedang memeriksa sepasang tangannya sendiri.
Lama ia memeriksa tangnnya, barulah menutupi matanya dan berkata sambil menghela napas. “Sepasang tangan yang baik baik tidak digunakan untuk menyulam, sebaliknya digunakan untuk membunuh orang, benar benar sangat sayang....”
Dengan mendadak suara jeritan itu berhenti semua, seolah olah dalam waktu sekejap mata berhenti dengan berbareng, Hong Sie Nio mengerutkan alisnya, memanggil dengan suara perlahan.
“Hoa Peng?”
Di luar tidak ada suara, hanya suara angin yang meniup daun daun diatas pohon hingga memeperdengarkan suara bekeresekkan.
Lama telah berlalu, baru terdengar suara golok masuk kedalam sarungnya.
Bibir Hong Sie Nio tersungging senyuman, katanya pula: “Aku tahu kau yang datang! Kecuali kau, siapa lagi yang dapat membunuh tujuh delapan orang itu dalam waktu sekejap mata? Siapa lagi yang bisa menggunakan golok demikian cepat?”
Diluar masih tetap tidak terdengar suara orang menjawab.
Hong Sie Nio berkata lagi: “Aku tahu kau yang membunuh mereka, disebabkan supaya mereka tidak terlalu lama menderita, aku tidak tahu sejak kapan hatimu berubah demikian lemah?”
Sesaat kemudian dari luar baru terdengar suara orang berkata perlahan:
“Hong Sie Nio kah yang ada didalam?”
“Syukur kau masih mengenali suaraku, ternyata kau masih belum lupa padaku.” menjawab Hong Sie Nio sambil tertawa.
“Kecuali Hong Sie Nio, didalm dunia ini masih ada siapa lagi diwaktu mandi juga mebawa bawa senjata rahasia?” berkata Hoa Peng.
Hong Sie Nio tertawa terkekeh kekeh, kemudian berkata:
“Kiranya kau juga sedang mengintip aku yang sedang mandi, ya? Kalau tidak, darimana kau bisa tahu kalau aku sedang mandi?”
Hoa Peng seolah olah tidak mendengar ucapannya.
Hong Sie Nio berkata: “Kalau kau sudah melihat, mengapa kau tidak mau masuk terang terangan saja?”
“Kau pergi meninggalkan daerah ini enam tujuh tahun lamanya, bukankah kau sudah merasa aman? Mengapa sekarang kau kembali lagi?”
“Sebab aku memikirkan kau”
Hoa Peng kembali bungkam. “Apakah kau tidak percaya kalau aku memikirkan kau? jikalau aku tidak memikirkan kau, mengapa aku sampai datang kemari ini untuk mencarimu?”
Hoa Peng kembali bungkam, hanya terdengar suara elahan napasnya.
“Mengapa kau terus menerus menghela napas? Apakah kau kira aku datang mencarimu itu artinya mesti aku membawa urusan tidak baik? Seorang sudah menjadi jaya, kawan lamanya juga tidak ingin melihat lagi?”
“Pakailah pakaianmu, sebentar aku tengok kau”
“Aku sudah berpakaian, masuklah!”
Orang yang dipanggil Hoa Peng tadi akhirnya kini sudah berada diambang pintu. Wajahnya yang memang banyak guratan, ketika melihat Hong Sie Nio masih duduk didalam bak mandinya dalam keadaan telanjang bulat, wajahnya dengan mendadak seperti bertambah banyak guratannya.
Hoa Sie Nio tertawa terkekeh kekeh kemudian berkata:
“Ada orang sengaja mengintip aku mandi, maka aku lalu membunuhnya, sedang kau yang tidak ingin melihat, sebaliknya aku membiarkan kau menyaksikannya”
Hoa Peng sebetulnya perperawakan pendek, tetapi siapapun semua tidak ada yang menganggap ia seorang pendek, sebab ia bertubuh kekar dan ototnya tampak sangat kuat, tampaknya bertenaga besar.
Waktu itu ia mengenakan mantel panjang warna hitam, namun diatas punggungnya masih tampak gagang goloknya yang diselubungi dengan kain warna merah.
Hoa Peng bisa menjadi kepala semua berandal didaerah Koan tiong, justru disebabkan goloknya itu.
“Kudengar kabar beberapa tahun berselang kau telah membunuh mati Koo Hui, si jago pedang didaerah Tay goan, apakah itu benar” bertanya Hong Sie Nio.
“Ya" menjawab Hoa Peng.
“Kabarnya sepasang golok gunung Tay heng san dua saudara Teng juga kalah dibawah golokmu. Itu juga betul?”
“Ya !” jawab Hoa Peng.
Orang she Hoa ini bukan saja tidak berani memandang Hong Sie Nio, bahkan bicarapun tidak suka banyak.
“Koo Hui dan dua saudara Teng semua adalah orang orang terkuat dalam rimba persilatan, kau ternyata bisa membunuh mereka, suatu bukti bahwa ilmu golokmu sudah semakin cepat lagi”
berkata Hong Sie Nio sambil tertawa.
Kali ini sepatah katapun tidak keluar dari mulut Hoa Peng.
Hong Sie Nio bekrata lagi: “Aku kemari, sebabnya ialah hendak melihat ilmu golokmu yang cepat!”
Wajah Hoa Peng mendadak berubah, katanya dengan suara berat
“Benarkah kau hendak melihat?”
“Kau tidak usah panik, aku bukan mencari kau untuk bertanding, sebab aku tidak suka mati dibawah golokmu, juga tidak tega membunuh kau” berkata Hong Sie Nio sambil tersenyum.
Perobahan wajah Hoa Peng tadi lama sekali baru pulih seperti biasa, lalu katanya dengan nada suara dingin:
“kalau begitu, kau tak usah melihat lagi sajalah”
“Mengapa?”
“Sebab golokku ini hanya dapat digunakan untuk membunuh orang, sama sekali bukan buat ditonton!”
Sepasang biji mata Hong Sie Nio yang jelita tampak berputaran, katanya sambil tertawa:
“Tetapi bagaimana kalau aku justru hendak melihatnnya?”
Hoa Peng yang sejak tadi hanya dia saja, tiba tiba berkata:
“Baik, kau lihatlah!”

0 comments:
Post a Comment